Saturday, February 27, 2021

Baru Bulan Kedua

Sumpah, dua bulan di tahun ini ternyata justru lebih berat dari tahun 2020 yang 'katanya' udah nggabisa lebih buruk lagi.

Emang, ngga untuk semua orang sih kisah ini, tapi seengganya itulah buruk yang gue rasakan.

Dua pekan bulat sudah bokap gue masuk rumah sakit. Sabtu di dua pekan yang lalu adalah hari pertama bokap masuk ke UGD di rumah sakit deket rumah gue. Masuk dari sekitar jam 4, kalo kata nyokap, tapi keluarga baru ngabarin gue jam 5-6an via chat. Dan kali itu ngga mendesak, yang bahkan kakak gue bilang "tapi kamu ngga usah ke sini ngga papa..", walaupun akhirnya tetep disuruh ke situ.

Thursday, December 31, 2020

Dua Kosong Dua Kosong

Ya, ternyata sudah tepat setahun lamanya ya dari terakhir kali gue nulis di sini.

Bener-bener selama setahun ini ngga nyoba untuk buka halaman ketik ini., Dan di sinilah gue sekarang, mungkin akan ada perbedaan-perbedaan tata bahasa atau sebagainya.

Keputusan yang cukup lucu sebenernya gue ngga ngetik blog lagi selama setahun ini., Di saat justru dunia sedang banyak mengetik dan membaca, lucu sebenernya kalo dipikir-pikir gue menghiasi masa quarter life crisis gue dengan sesuatu yang bumi pun anggap asing.

Banyak banget yang terjadi di tahun ini, sekaligus sedikit. Sedikit hal yang kasat terlihat bertambah, tapi rasanya kita belajar untuk memaknai apa yang dekat, ya. Mulai dari bulan tiga tahun ini, semua dituntut untuk tetap di rumah. Pegawai-pegawai dirumahkan dan di-ke-rumahkan. Dipekerjakan dari rumah dan dipulangkan ke rumah. Kegiatan-kegiatan keramaian sangat berkurang, dari kantor, sampai tempat hiburan yang sempat tutup selama beberapa waktu. Virus yang gue ngga mau percaya berasal dari mana ini rasanya cukup menarik untuk diceritakan dimanapun, ya. 

Hari-hari gue yang biasanya sangat ga bisa stay #dirumahaja, bikin dan memaksa gue untuk melakukan dan mengulik banyak hal di rumah aja. Dari yang awal tahun gue berhenti ngopi 2 bulan karna ada insiden lambung, gue malah beli segala alat kopi dan nyoba-nyobain macem-macem beans. Gue yang biasanya kalo lagi penat bisa tiba-tiba cabut ke kota orang, kali ini takut dan rasanya akan ditakuti sama orang-orang, perkara protokol kesehatan akan lebih susah ditegakkan kalo travelling.

Gue yang sebelumnya belum pernah tergerak untuk nonton series, sekarang ngga tau udah berapa series yang gue tamatin. Yang sebelumnya males call-an sama orang, dituntut untuk selalu call-an karna ngga mungkin ketemu langsung.

Seminar online, konser online, dan yang sekarang jadi hits banget adalah kata Conference Call. Keren. Ngga tau karna ini emang baru tahun-tahun awal gue kerja, atau emang pandemi ini bikin istilah-istilah keren di dalamnya. Bahkan ngga kerasa gue udah bikin 3 lagu dan masih running menuju ke-6 atau 7 di masa pandemi ini. 

Tagihan listrik fix naik sih ini. Ngga cuma tagihan listrik di rumah, bahkan transport pun untuk orang-orang yang parnoan kayak gue jadi takut naik kendaraan umum, jadi memutuskan buat bawa mobil kemana-mana, dan bensin serta uang tollnya YAWLA mahalnya.

Hobi-hobi aneh pun bermunculan. Mulai dari orang-orang bikin dalgona, tiba-tiba suka gambar, tiba-tiba semua orang tiktokan, oper-operan kuas make up, sampe berantem soal Han Ji-Pyeong dan Nam Do-San. Bahkan gue akhirnya mencoba hal yang sebenernya dari entah berapa tahun lalu mau gue coba; sepatu roda. Astaga, setiap ke Semarang dulu tuh di simpang lima selalu nyewa sepatu roda, tapi gapernah bener. Terus ngeliat story temen gue yang beli sepatu roda, beberapa minggu kemudian gue ikutan beli. HAHA.

Ya, beginilah kondisinya, ngga bisa ngga bersyukur karna justru banyak banget waktu gue buat ngulik.

Tuesday, December 31, 2019

Dua Kosong Satu Sembilan

Terhitung dari 2013 adalah awal mula gue bikin blog. Dan sejak (kasarnya) 2015, gue hampir rutin nulis blog seengganya gue 'paksain' untuk sebulan sekali.

Ya, mungkin tahun 2020 ini akan agak berbeda..

Gue mulai pada tahap ngga tau apa yang harus gue ceritakan dalam waktu dekat. Antara emang gue sekarang udah (sibuk) ngantor dan ngebagi waktu sama freelance dan main, rasanya gue mau lebih sensitif ke beberapa hal dulu, dan akan menceritakan nanti sepaket-sepaket.

Rasanya gue simpen dulu ya blog ini sampe cerita kehidupan gue berikutnya. Karna rasanya di umur-umur segini kehidupan lagi monotone-monotonenya. Yha, budak korporat.

Terima kasih teman-teman yang sudah mampir-mampir di blog gue selama ini!

.eh sedih juga ya.


Sunday, December 1, 2019

Ke Kota Pendidikan

Senin itu,
"Udah, kalian kelarin aja ini laporan-laporan dan kerjaan kemarin yang belum selesai. Besok kalian libur aja seminggu ini..", kata pak Boss.

Kita bertatapan satu sama lainnya sambil menyimpan senyum kecil.
"Serius, pak?", tanya Cilla, temen kantor gue, si orang Marketing Communication.

"Ya, besok kalo gitu gue ke Bandung..", lanjut Cilla ngomong ke gue.
"Iya, gue juga udah bilang ke nyokap kalo besok gue ke Bandung lagi..", timpal Shiella, yang lebih sering gue panggil Tante, Graphic Designer juga di kantor gue ini.

"Besok lu ikut ke Bandung, Ya?", tanya Fharel yang kebetulan besok juga ke Bandung.
    "I...ya, kayaknya..", jawab gue.

Wednesday, October 30, 2019

Pertemuan dan Lawannya

Ngga tau kenapa kok berteman itu sangat menyenangkan.
Gue sangat menyayangkan adanya konsep jarak dan waktu yang berbanding lurus.
Masih mempertanyakan kenapa perpisahan 'harus' terasa berat.

Dua pekan terakhir ini gue bertemu orang-orang baru dan berusaha untuk cukup berkomunikasi dengan setiap orang., perihal manusia sebagai mahluk sosyal yakan.

Sedikit intermezo bahwa seengganya 2 minggu terakhir ini gue dan tim gue lagi ngadain event. Sebuah event tour live musical yang mendatangkan pemain-pemain langsung dari Korea. Untuk yang tau, ini event Pinkfong Baby Shark. Iya, yang dudu dudu dudu itu, tapi bukan Black Pink.

2 pekan kemarin, selama satu pekan full, gue menghabiskan waktu gue di Yogyakarta. Dari preparation untuk eventnya 4 hari, dan 3 hari pelaksanaan eventnya. Lanjut ke Surabaya 4 hari preparation juga, dan 3 hari pelaksanaan pula. Tepatnya pagi kemarin gue baru 'mendarat' di Jakarta lagi, cuma gue memilih untuk pulang dulu.

Idenya adalah selama dua minggu kemarin gue satu tim senantiasa mencari coffee shop untuk kami singgahi, sembari mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Kebutuhan produksi, publikasi, dan sebagainya. Serunya adalah 6 dari 7 hari di Jogja ini kita ke satu coffee shop yang sama. Kemari Cofee, namanya. Awalnya kita kesitu karena di aplikasi ojol memperlihatkan bahwa letaknya ngga jauh dari venue dan hotel kita. Tapi lama-kelamaan kok betah. Kok jadi sayang.

Ya, ngga mungkin emang selama 6 hari itu ngeliatin laptop terus. Jadi sesekali dan ngga jarang kita main-main ke barnya untuk nontonin baristanya ngebrew, dan sedikitnya bertukar pikiran. Sampe kenalan sama semua barista yang kerja di situ rasanya. Terasa agak basi memang kalo dibilang ini basa-basi. Karena nyatanya yang gue rasakan ketika hari terakhir di Jogja dan gue harus pamit karna besoknya harus ke Surabaya kok berat sekali.

Ngga cuma berteman sama orang-orang di coffee shop tentunya. Gue dan kita juga berusaha untuk berteman sama usher-usher disana. Teman-teman yang membantu kerapihan dan kelancaran event kita. Sedikit-sedikit ngobrol-ngobrol, bercanda, ngatain satu sama lain. Walaupun sedikit kok ya pisahnya berat juga. Melankolis banget.

-----
Lanjut ke pekan berikutnya, gue menghabiskan 7 hari juga di Surabaya. Di sini emang kita ga berteman sama barista-barista coffee shop. Tapi ada tepatnya 2 orang dari event sebelah, event yang sama-sama diselenggarakan di mall yang sama dengan kita, kok malah nyaman banget rasanya diajak temenan. Seengganya 2 malam terakhir kita di Surabaya, kita jalan bareng. Pas event masing-masing berlangsung juga saling 'main' ke event lainnya.

Monday, September 30, 2019

Memulai Kembali

Matahari sudah di penghujung petang. 
Ku lepas hari dan sebuah kisah.

Ga deng, blog ini bukan berisi lirik lagu Monita Tahalea. Gue akan menceritakan tentang gue yang bulan ini baru mulai lagi jadi anak kantoran. Singkatnya, gue baru lulus bulan Desember tahun kemarin. Jadi freelancer sebulan, lanjut ngantor dari Januari sampe April 2019 (4 bulan), lanjut lagi freelance 4 bulan, dan mulai ngos-ngosan jadi freelancer karna bayaran yang tidak pasti kapan datangnya. 

Sampe detik ini gue juga masih belum jelas apakah di blog ini gue lebih akan membandingkan antara pekerja kantoran vs freelancer, atau kehidupan gue di kantor baru ini.

Saturday, August 31, 2019

Tattoo #2

Melanjutkan dari blog gue yang "Suntikan Tinta Pertama", biasa terjadi memang.. tattoo pertama biasanya kasih liatnya masih kode-kode, tattoo kedua udah terang-terangan.

Ya, gue bikin tato untuk keduakalinya 23 hari yang lalu. Sekitar 5 bulan setelah tato pertama gue jadi. Gue ngga berusaha nahan diri buat bikin tato baru emang, tapi kemarin kok rasanya begitu mendadak., sama seperti kali terakhir gue nato.

Di blog ini gue akan sedikit menceritakan proses impulsif yang gue lakukan keduakalinya.

Monday, July 22, 2019

Asing sebagai Orang Asing

Halo!

Sebenernya kejadian ini udah 11 hari yang lalu., tapi rasanya masih cukup fresh untuk gue ceritakan.

Mungkin beberapa dari kalian tau bahwa gue seintrovert itu.., seringkali bisa sangat menikmati diri sendiri berjalan sendirian di keramaian, duduk sendirian di kerumunan.

Ini salah satu cerita gue di kedai kopi yang belakangan lumayan sering gue kunjungi. Starbucks. Beberapa hari belakangan emang gue menyempatkan diri untuk melihat kerumunan, daripada gue di rumah terus. Gue pikir lumayanlah untuk gue menghibur diri gue sedikit., mendengarkan orang bercakap-cakap, bercanda sederhana dengan pengasing disana. Kadang emang cuma duduk sambil ngelamun sambil tutup mata. Kadang ngobrol kecil sama barista sana, kadang ngerjain ongoing projects, kadang gambar di sketchbook, dan sebagainya.

Wednesday, June 19, 2019

Suntikan Tinta Pertama

Halo!

Mungkin beberapa dari kalian udah tau kalo belum lama ini gue menusukkan tatto pertama gue. Ya, sekitar 3-4 bulan yang lalu gue membuat keputusan yang sangat impulsif. Dan, rasanya akan seru kalo diceritakan. HIHI

Friday, May 31, 2019

Budak Korporat

Sejak pertengahan Januari kemarin, gue untuk pertamakalinya jadi anak kantoran, jadi budak korporat, kalo kata judul dari post ini. Jadi anak yang kerja 8 jam sehari, jadi anak yang setiap hari naik kereta dari Rawa Buntu sampe ke Kebayoran/Palmerah. Jadi anak yang setiap hari ngabisin waktu 2 jam untuk bolak-balik rumah ke kantor.

Namun,
Per-tanggal 30 April kemarin gue udah resign di kantor gue tersebut, setelah 3.5 bulan kerja. Ya, emang ada beberapa alasan, dari idealisme sendiri, sampe alasan-alasan batin yang mungkin tidak perlu dijelaskan di sini.